Saya
senang sekali mendapat kesempatan untuk berbagi beberapa pemikiran
tentang isu keragaman budaya (cultural diversity) dan pertunjukan tari.
Saya ingin secara singkat mendiskusikan tentang pertunjukan tari
kontemporer di Inggris, terutama di London ,
dari sudut ‘keragaman budaya’. Saya mencoba mempertanyakan makna dari
istilah tersebut dan dampaknya terhadap penciptaan tari.
Jadi, bayangkan jika Anda baru saja mendarat di bandara Heathrow (London ). Anda seorang penari/koreografer/pencipta pertunjukan dari Indonesia .
Anda ingin tahu tentang apa yang terjadi,
dimana orang-orang berada. Anda ingin tahu tentang kesempatan-kesempatan untuk manggung, atau peluang untuk berkolaborasi. Anda mungkin bertanya-tanya, dalam kata lain, apakah Anda akan cocok dan dimana Anda bisa menempatkan diri Anda di peta tari di sini. Lalu, dari mana Anda harus mulai?
dimana orang-orang berada. Anda ingin tahu tentang kesempatan-kesempatan untuk manggung, atau peluang untuk berkolaborasi. Anda mungkin bertanya-tanya, dalam kata lain, apakah Anda akan cocok dan dimana Anda bisa menempatkan diri Anda di peta tari di sini. Lalu, dari mana Anda harus mulai?
Sebagai
seorang pengunjung, Anda pertama-tama akan terkesima dengan apa yang
terlihat seperti kemewahan, kekayaan dan keberagaman pertunjukan tari
di London . Dan dimana-mana Anda akan menemukan bahwa keragaman budaya dikumandangkan dan dirayakan secara mendalam.
Tetapi,
hati-hati. Kultur tari di Inggris adalah “sebuah konteks yang
menempatkan ballet klasik di puncak kanon sementara (di bawahnya)
bertebaran ekspresi-ekspresi tradisional, hibrida (hybrid) dan
sinkretik” tulis Thea Nerissa Barnes (Barnes, online). Jadi, apa yang
akan Anda lihat?
Banyak sekali pertunjukan ballet di Royal Opera House, tempat pertunjukan paling terkemuka di London .
Tempat pertunjukan besar lainnya seperti Sadlers Wells, the Barbican
dan the Royal Festival Hall, memiliki pertunjukan kontemporer dan
keragaman budaya sepanjang tahun dan dalam kurun yang teratur. Di pusat
kota London, The Place, adalah rumah bagi the London School of
Contemporary Dance, juga merupakan THE venue untuk tari kontemporer,
dengan capital K, disaingi oleh the Laban Centre di bagian selatan
London, sebuah pusat pelatihan dan pertunjukan yang bagus, menempati
sebuah gedung yang futuristik. Jika Anda kebetulan ada di London pada
musim gugur, pas berlangsung festival Dance Umbrella yang secara rutin
membawa kelompok-kelompok tari kontemporer utama dari seluruh penjuru
dunia, tetapi terutama dari Amerika Serikat dan Eropa Barat, meskipun
kadang-kadang ada juga dari Jepang maupun Taiwan. Masih banyak lagi
teater-teater kecil, tempat-tempat pertunjukan kecil yang program
tarinya lumayan rutin. Ada juga tarian ‘komersial’ seperti musical.
Kelas-kelas juga dibukan untuk khalayak umum dan lokakarya-lokakarya
(workshops). Setelah merayakan ‘kekayaan’ ini, bagaimanapun Anda mulai
mendapat kesan-kesan tentang politik tari dan diskursus (wacana) tari
di London (dan dalam beberapa hal, ini menjadi representasi dari apa yang terjadi di seeantero Inggris).
Karenanya,
kita perlu membongkar kembali sebutan ‘keragaman budaya’ yang
dikumandangkan para pengambil keputusan maupun lembaga-lembaga
pendanaan. Ini adalah sebutan yang benar-benar terkait dengan
wacana-wacana yang sedang berlangsung tentang apa yang disebut bentuk
klasik, tradisional dan kontemporer dengan referensi tari
non-Eropa/Amerika, dan di dalamnya terselip gagasan bahwa setiap
kelompok etnik harus diwakili oleh sebuah bentuk tari tertentu, yang
identitas artistiknya dibayangi oleh etnisitasnya.
Diskusi
tentang etnisitas dan identitas kebudayaan telah tumbuh dalam arti
jumlah intervensi-intervensi selama dua dekade terakhir, yang berkaitan
dengan pergeseran-pergeseran dan ‘positionalities’ politis. Layak kerap
disebut bahwa definisi-definisi ‘etnisitas’, ‘ras’ dan ‘kebudayaan’
tidak mencerminkan realita-realita yang absolut, universal maupun tak
dapat diubah secara konseptual, “sebaliknya, mereka mencerminkan
cara-cara memandang dunia yang tak pasti, yang bersinggungan dengan
relasi-relasi sosial dan politis yang lebih luas” (Jones, 40).
Wacana-wacana yang secara tipikal historis, sosiologis, dan
antropologis telah mendefinisikan dan mendefinisikan kembali
“kebudayaan” dan akan terus berlanjut begitu. Tari dan ‘performative’
akan tercetak di dalam wacana politis ini, memainkan sebuah peran dalam
mengartikulasikan persepsi-persepsi, termasuk tentang persepsi diri
ataupun identitas kebudayaan. Definisi-definisi tentang ‘rumah’
mempengaruhi isi dan bahkan bentuk dari tari serta pengaruh pengaturan
tari serta titik-titik referensi, dengan perubahan-perubahan yang
ditentukan oleh perubahan-perubahan baru di dalam sebuah konteks social
yang baru dan terus menerus mendefinisikan diri kembali serta
harapan-harapan penonton. Perubahan-perubahan itu terancam lewat sebuah
proses negosiasi.
Debat
tentang klasisisme dan contemporaneity adalah penting dalam wacana tari
Inggris tetapi signifikansi-signifikansi dari istilah-istilah ini
secara kontekstual diambil agar istilah-istilah ini bergaung dalam
cara-cara yang berbeda ketika digunakan oleh para pengambil keputusan
dan lembaga pemberi dana serta oleh para seniman yang melibatkan diri
secara refleksif dengan kerja seni mereka. Sebagai hasilnya, di dalam
konteks Inggris, isu contemporaneity di dalam praksis-praksis tari yang
non-Eropa menjadi bentuk yang tidak dapat dibedakan dari sikap-sikap
terhadap modernitas dan postmodernitas di dalam tari dan pencarian bagi
sebuah bahasa tari yang dapat mengartikulasikan kekhususan menjadi
seorang pendatang di masyarakat Inggris kini.
Menjadi
seorang pendatang (migran) adalah sebuah kondisi yang dicirikan oleh
definisi-definisi yang berubah tentang rumah dan asal usul. Ada
beberapa “tempat asal usul”, banyak “rumah” dan “rumah diantara”, yang
muncul dari identitas-identitas ganda dan cair, bersinggungan dengan
realita-realita etnisitas, gender dan klas. Konsep diaspora, yang makin
digunakan untuk melukiskan migrasi dari kelompok-kelompok serta
komunitas-komunitas yang besar, seperti Asia Selatan dan China, dengan
sendirinya menjadi problematik; adalah penting untuk menyadari bahwa
‘diasporik’ bukan sekedar kata lain dari ‘jauh dari rumah’, tetapi
seperti yang diusulkan Brah, “konsep diaspora menandakan proses
multi-locationality yang melintas di perbatasan-perbatasan geografis,
cultural dan phychic” (Brah, 194) dan dapat dipahami dengan lebih baik
dalam istilah-istilah “ruang diaspora” yang bergerak di luar batas
gagasan “batas-batas”, yang terkandung dalam gagasan diaspora (Brah,
208).
Tidak
ada konsensus tentang apa yang menjadikan sesuatu “klasisisme” dan apa
yang “kontemporer” di dalam tari non Eropa-Amerika. Lembaga-lembaga
pendanaan, manajer-manajer tempat pertunjukan, penonton tari, kritikus
tari, dan beberapa praktisi sendiri memahami tari kontemporer sebagai
keterlibatan dengan hibriditas, sebuah jukstaposisi dari ‘tradisi
klasik’ yang secara monolitik dan konservatif tidak dipermasalahkan
lagi dengan estetika dan teknik-teknik tari kontemporer barat. Hal ini
dapat dilihat sebagai hasil dari sebuah interogasi terhadap
bentuk-bentuk yang diharapkan oleh para lembaga pendanaan untuk karya
yang “baru, cutting edge” (Gorringe, 116). Memang situasi yang agak
kompleks dan membulat. Menjadi ‘mainstream’ berarti membedakan tari
teater dari tari komunitas, yang mencerminkan etnisitas dan kecondongan
religiusitas serta untuk menempatkan tari sebagai upaya profesional.
Karena
mereka tinggal di Inggris, para penari keturunan Asia dan Afro-Karibia
diharapkan untuk melibatkan diri dengan estetika tari modernis – yang
terus menerus mendorong garis atas itu di dalam pengertian presentasi,
ketrampilan panggung, musik dan menyingkap serta mengembangkan tema,
agar melakukannya di dalam cara yang langsung dikenali sebagai sesuatu
yang diilhami oleh standar-standar pertunjukan barat. Tujuan yang
di’dikte’ secara halus adalah untuk menciptakan karya yang baru,
berbeda, belum pernah dilihat, untuk bereksperimen dengan hibriditas,
untuk mendobrak batas-batas mengikuti estetika modernis barat secara
penuh, yang sepertinya tetap di tas tak tertandingi.
Sebutan-sebutan
klasisisme dan neoklasisisme digunakan dengan penekanan pada
universalitas dan diterapkan, misalnya, pada bentuk-bentuk tari dari
Asia Selatan seperti bharatanatyam. Asumsi-asumsi yang ada tentang
klasisisme, seperti dikonseptualkan dalam wacana Eropa-Amerika tidak
ditantang. Mencoba untuk menempatkan diri di dalam klasisisme yang
universal memiliki jebakan-jebakannya sendiri, dan bagaimanapun,
memaksakan kesetaraan absolut dari klasisisme genre tari yang non-barat
dengan sebutan barat, tanpa menginterograsinya, memiliki akibat balik
dimana versi-versi lain tentang klasisisme tidak diijinkan untuk
diterima dalam istilah-istilahnya sendiri. Saya ingin berargumen bahwa
kekurangan kritik ini berakar pada kebingungan yang dominant di dalam
persepsi-persepsi tentang apa yang dimaksud dengan klasisisme dan
contemporaneity, dalam hal ini berkaitan denga praktek-praktek tari
non-Eropa/Amerika, di dalam konteks Inggris.
Klasisisme (dan neoklasisisme), seperti kita ketahui dari wacana-wacana seni dan tari Euro-Amerika adalah
Keduanya
sebuah sikap estetik sekaligus sebuah tradisi artistik. Tradisi
artistik merujuk pada keantikan klasik dari Yunani dan Roma, seninya,
sastranya, serta kritisisme, dan periode-periode berikutnya yang
melihat kepada Yunani dan Roma sebagai prototip mereka seperti
renaisans Carolingina, Renaisans, dan Neoklasisisme. Penggunaan
estetikanya menyiratkan ciri-ciri klasik tentang kejelasan,
keteraturan, keseimbangan, persatuan, simetri dan harga diri. (ORO;
juga lihat Craine dan Mackrell, dan Mcauley, 39).
Sebutan
klasisisme adalah bersifat Eropa dan ideal-ideal estetika dalam
klasisisme membawa warisan keantikan klasikan serta dampat terhadap
sebuah model penyempurnaan kebudayaan Eropa. Identitas Eropa serta
orang-orang Eropa membayangkan tentang masa lalu barat. Dengan kata
lain, klasisisme di dalam konteks Eropa selalu sebuah bentuk dari
neoklasisisme, sebuah re-konseptualisasi serta sebuah langkah terhadap
klasisisme eksemplar dari Yunani dan Roma, yang menemukan
artikulasi-artikulasi ganda sepanjang sejarah Eropa.
Klasisisme,
di dalam wacana Eropa-Amerika, mendefenisikan dirinya sebagai
universal: nilai-nilai abadi dari validitas universal. Jika kita
mengambil kesimpulan logis ini, hanya ada ruang untuk satu klasisisme
dan hukum-hukumnya yang berwacana Eropa-Amerika.
Tetapi ada ‘klasisisme-klasisisme’ lain, yang muncul sebagai akibat
dari pertemuan kolonial: belum mengikuti model klasisisme barat, dan
tak terhindarkan, berbeda. Di sinilah, di dalam persepsi Eropa-Amerika,
sebuah hirarki implisit dengan klasisisme barat di puncak sebagai
prototip. Sebutan klasisisme Eropa-Amerika baik sebagai kategori maupun
modus artistik harus ditransplantasikan dan dilokasikan dalam
konteks-konteks non-barat dan telah menjadi sebuah cara untuk
mengartikulasikan sebuah pandangan universal tentang seni yang selalu
ingin maju, apa yang disebut Mitter sebagai ‘validitas universal dari
teologi artistik” (Mitter, 1).
Isu hibriditas dan, dengan itu, ada isu interkulturalisme mengintip di latar belakang. Dunia tari kontemporer Asia
atau Afro-Karibia di Inggris dipahami sebagai karya yang hibrida secara
prinsip dan/atau sebuah gabungan dengan teknik-teknik tari kontemporer
barat. Interkulturalisme di Inggris secara umum diterima sebagai
keterlibatan dalam dialog dengan kebudayaan yang dominant barat dan
laki-laki. Pertunjukan intercultural di Asia tidak sama dengan
pertunjukan intercultural di Inggris. “Bagaimana seorang bisa
menganggap mampu bicara tentang interkulturalisme”, tanya Barucha,
“jika ia tidak memulai untuk bersentuhan dengan komunitas-komunitas
yang beragam secara social maupun etnik yang mendiami ruang publiknya
sendiri?” (Barucha, 3).
Realita,
kata Edwards, adalah apa yang kita masih operasikan “dalam sebuah
paradigma ketika kebudayaan-kebudayaan etnis, marjinal dan non-putih
terus mengalami pengecualian dan dimana beberapa komunitas putih takut
untuk berubah; sebuah konteks dimana menjadi English atau British
adalah arena debat politik yang utama” (Edwards, online).
Bagian
besar dari masalah adalah (fakta bahwa) praktek-praktek tari tertentu,
jenis yang ‘beragam secara budaya’ terus dilihat sebagai
kendaraan-kendaraan untuk ‘mengekspresikan’ identitas budaya/rasial.
Ballet atu tari modern Eropa-Amerika tidak pernah menjadi apa yang
seseorang maksud sebagai tari ‘beragam secara budaya’. Mereka adalah
bentuk-bentuk hegemonis. Penari kontemporer Vena Ramphal, yang
trajectory-nya berawal tari klasik bharatanatyam sebagai teknik awal
yang ia pelajari, ke ‘merek’nya sendiri tentang penciptaan tari
kontemporer, menunjuk pada ‘identitas-identitas budaya’ (seperti
British Asian) didengungkan, tetapi maksudnya adalah untuk secara
otomatis menghentikan [misalnya] identitas-identitas Asia Selatan
dengan tari Asia Selatan. Ini membuka sebuah ruang untuk beberapa hal terjadi, seperti: estetika tari-tari [Asia dan Afro-Karibia] bisa muncul ke depan, dengan apa adanya; dalam interaksi antara bentuk-bentuk tari Asia dan lainnya membentuk bahasa-bahasa baru untuk menciptakan, mengerjakan, dan melukiskan tari(-tarian)” (Mangalanayam, online).
Sebagai
kesimpulan: saya secara singkat telah menyebutkan beberapa masalah
terkait dengan keragaman budaya seperti diterapkan dalam penciptaan
tari dan pertunjukan di Inggris, dengan sebuah fokus yang lebih
spesifik yaitu London ,
ibukota ‘keragaman budaya’ yang utama. Saya telah menekankan
referensi-referensi eufemistik terhadap ras dan etnisitas yang
diterjemahkan sebagai ‘keragaman budaya’ serta implikasinya terhadap
bagaimana gagasan-gagasan tentang klasisisme, gagasan-gagasan tentang
tradisional dan contemporaneity didiskusikan dan dipahami. Saya secara
singkat teltah menyinggung beberapa isu penting yang terkait dalam
diskursus ini, dan yang fundamental untuk memahami praksis-praksis
tari, seperti perbedaan antara tradisional dan klasik – bagaimana
istilah-istilah ini digunakan, oleh siapa dan dalam referensi
bentuk-bentuk tari mana saja. Mungkin, selama diskusi berlangsung, kita
dapat berkesempatan untuk meninjau lebih jauh.
narasumber oleh : Dr Alessandra Lopez y Royo
Roehampton University (London )
Jones , Siam . The archaeology of ethnicity. Constructing identities in the past and present. London : Routledge, 1996.
Oxford History of Art) Oxford : Oxford University Press, 2001.
tinjauan referensi sebagai berikut :
Bharucha, Rustom. The Politics of Cultural Practice. Thinking through Theatre in an Age of Globalization. Oxford/New Delhi : Oxford University Press, 2001.
Brah, Avtar. Cartographies of diaspora: Contesting identities. London : Routledge, 1996.
Craine, Debra and Judith Mackrell. The Oxford Dictionary of Dance. Oxford : Oxford University Press, 2000.
Gorringe, Magdalen. “South Asian Dance in UK .” A.M. Khokar ed. Attendance. The Dance Annual of India . Uday Shankar and Choreography Special. Bangalore : Ekah Printways, 2001.
Mangalanayagam, Tanja “Vena Ramphal” www.londondance.com 2005
Mitter, Partha. Indian Art. (
No comments:
Post a Comment