English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

8.06.2010

TUBUH TARI KONTEMPORER dalam Tari dan Keragaman Budaya di London

Saya senang sekali mendapat kesempatan untuk berbagi beberapa pemikiran tentang isu keragaman budaya (cultural diversity) dan pertunjukan tari. Saya ingin secara singkat mendiskusikan tentang pertunjukan tari kontemporer di Inggris, terutama di London, dari sudut ‘keragaman budaya’. Saya mencoba mempertanyakan makna dari istilah tersebut dan dampaknya terhadap penciptaan tari.

Jadi, bayangkan jika Anda baru saja mendarat di bandara Heathrow (London). Anda seorang penari/koreografer/pencipta pertunjukan dari Indonesia. Anda ingin tahu tentang apa yang terjadi,
dimana orang-orang berada. Anda ingin tahu tentang kesempatan-kesempatan untuk manggung, atau peluang untuk berkolaborasi. Anda mungkin bertanya-tanya, dalam kata lain, apakah Anda akan cocok dan dimana Anda bisa menempatkan diri Anda di peta tari di sini. Lalu, dari mana Anda harus mulai?

Sebagai seorang pengunjung, Anda pertama-tama akan terkesima dengan apa yang terlihat seperti kemewahan, kekayaan dan keberagaman pertunjukan tari di London. Dan dimana-mana Anda akan menemukan bahwa keragaman budaya dikumandangkan dan dirayakan secara mendalam.

Tetapi, hati-hati. Kultur tari di Inggris adalah “sebuah konteks yang menempatkan ballet klasik di puncak kanon sementara (di bawahnya) bertebaran ekspresi-ekspresi tradisional, hibrida (hybrid) dan sinkretik” tulis Thea Nerissa Barnes (Barnes, online). Jadi, apa yang akan Anda lihat?

Banyak sekali pertunjukan ballet di Royal Opera House, tempat pertunjukan paling terkemuka di London. Tempat pertunjukan besar lainnya seperti Sadlers Wells, the Barbican dan the Royal Festival Hall, memiliki pertunjukan kontemporer dan keragaman budaya sepanjang tahun dan dalam kurun yang teratur. Di pusat kota London, The Place, adalah rumah bagi the London School of Contemporary Dance, juga merupakan THE venue untuk tari kontemporer, dengan capital K, disaingi oleh the Laban Centre di bagian selatan London, sebuah pusat pelatihan dan pertunjukan yang bagus, menempati sebuah gedung yang futuristik. Jika Anda kebetulan ada di London pada musim gugur, pas berlangsung festival Dance Umbrella yang secara rutin membawa kelompok-kelompok tari kontemporer utama dari seluruh penjuru dunia, tetapi terutama dari Amerika Serikat dan Eropa Barat, meskipun kadang-kadang ada juga dari Jepang maupun Taiwan. Masih banyak lagi teater-teater kecil, tempat-tempat pertunjukan kecil yang program tarinya lumayan rutin. Ada juga tarian ‘komersial’ seperti musical. Kelas-kelas juga dibukan untuk khalayak umum dan lokakarya-lokakarya (workshops). Setelah merayakan ‘kekayaan’ ini, bagaimanapun Anda mulai mendapat kesan-kesan tentang politik tari dan diskursus (wacana) tari di London (dan dalam beberapa hal, ini menjadi representasi dari apa yang terjadi di seeantero Inggris).

London adalah rumah bagi sebuah populasi yang sangat besar dan beragam, yang berasal dari berbagai suku, diantaranya dari Asia Selatan, China dan Afro-Karibia. Keragaman ini sepertinya dicerminkan dalam keragaman praktek-praktek tari yang berbasis di London. Setiap kelompok etnis diwakili di dalam istilah-istilah tari dari bentuk-bentuk penciptaan tari yang spesifik, diidentifikasi sebagai wakil dari sebuah komunitas. Namun, hal inipun tergantung dari negosiasi-negosiasi ekstensif, karena dihubungkan secara otomatis dengan sebuah identitas etnis itu bisa mengancam pertumbuhan seorang penari/koreografer yang latarbelakangnya ‘etnis’ (kata halus untuk bukan kulit putih). Para penari/koreografer ini secara cepat belajar bahwa jika mereka ingin dianggap sebagai seniman dan menikmati status sebagai seniman, mereka perlu menegosiasikan kembali etnisitas dari bentuk-bentuk (tari) mereka dengan membuatnya agar dapat diakses dengan mudah oleh para penonton di Inggris yang ‘putih’ maupun yang rata-rata (mainstream).

Karenanya, kita perlu membongkar kembali sebutan ‘keragaman budaya’ yang dikumandangkan para pengambil keputusan maupun lembaga-lembaga pendanaan. Ini adalah sebutan yang benar-benar terkait dengan wacana-wacana yang sedang berlangsung tentang apa yang disebut bentuk klasik, tradisional dan kontemporer dengan referensi tari non-Eropa/Amerika, dan di dalamnya terselip gagasan bahwa setiap kelompok etnik harus diwakili oleh sebuah bentuk tari tertentu, yang identitas artistiknya dibayangi oleh etnisitasnya.

Diskusi tentang etnisitas dan identitas kebudayaan telah tumbuh dalam arti jumlah intervensi-intervensi selama dua dekade terakhir, yang berkaitan dengan pergeseran-pergeseran dan ‘positionalities’ politis. Layak kerap disebut bahwa definisi-definisi ‘etnisitas’, ‘ras’ dan ‘kebudayaan’ tidak mencerminkan realita-realita yang absolut, universal maupun tak dapat diubah secara konseptual, “sebaliknya, mereka mencerminkan cara-cara memandang dunia yang tak pasti, yang bersinggungan dengan relasi-relasi sosial dan politis yang lebih luas” (Jones, 40). Wacana-wacana yang secara tipikal historis, sosiologis, dan antropologis telah mendefinisikan dan mendefinisikan kembali “kebudayaan” dan akan terus berlanjut begitu. Tari dan ‘performative’ akan tercetak di dalam wacana politis ini, memainkan sebuah peran dalam mengartikulasikan persepsi-persepsi, termasuk tentang persepsi diri ataupun identitas kebudayaan. Definisi-definisi tentang ‘rumah’ mempengaruhi isi dan bahkan bentuk dari tari serta pengaruh pengaturan tari serta titik-titik referensi, dengan perubahan-perubahan yang ditentukan oleh perubahan-perubahan baru di dalam sebuah konteks social yang baru dan terus menerus mendefinisikan diri kembali serta harapan-harapan penonton. Perubahan-perubahan itu terancam lewat sebuah proses negosiasi.

Debat tentang klasisisme dan contemporaneity adalah penting dalam wacana tari Inggris tetapi signifikansi-signifikansi dari istilah-istilah ini secara kontekstual diambil agar istilah-istilah ini bergaung dalam cara-cara yang berbeda ketika digunakan oleh para pengambil keputusan dan lembaga pemberi dana serta oleh para seniman yang melibatkan diri secara refleksif dengan kerja seni mereka. Sebagai hasilnya, di dalam konteks Inggris, isu contemporaneity di dalam praksis-praksis tari yang non-Eropa menjadi bentuk yang tidak dapat dibedakan dari sikap-sikap terhadap modernitas dan postmodernitas di dalam tari dan pencarian bagi sebuah bahasa tari yang dapat mengartikulasikan kekhususan menjadi seorang pendatang di masyarakat Inggris kini.

Menjadi seorang pendatang (migran) adalah sebuah kondisi yang dicirikan oleh definisi-definisi yang berubah tentang rumah dan asal usul. Ada beberapa “tempat asal usul”, banyak “rumah” dan “rumah diantara”, yang muncul dari identitas-identitas ganda dan cair, bersinggungan dengan realita-realita etnisitas, gender dan klas. Konsep diaspora, yang makin digunakan untuk melukiskan migrasi dari kelompok-kelompok serta komunitas-komunitas yang besar, seperti Asia Selatan dan China, dengan sendirinya menjadi problematik; adalah penting untuk menyadari bahwa ‘diasporik’ bukan sekedar kata lain dari ‘jauh dari rumah’, tetapi seperti yang diusulkan Brah, “konsep diaspora menandakan proses multi-locationality yang melintas di perbatasan-perbatasan geografis, cultural dan phychic” (Brah, 194) dan dapat dipahami dengan lebih baik dalam istilah-istilah “ruang diaspora” yang bergerak di luar batas gagasan “batas-batas”, yang terkandung dalam gagasan diaspora (Brah, 208).

Tidak ada konsensus tentang apa yang menjadikan sesuatu “klasisisme” dan apa yang “kontemporer” di dalam tari non Eropa-Amerika. Lembaga-lembaga pendanaan, manajer-manajer tempat pertunjukan, penonton tari, kritikus tari, dan beberapa praktisi sendiri memahami tari kontemporer sebagai keterlibatan dengan hibriditas, sebuah jukstaposisi dari ‘tradisi klasik’ yang secara monolitik dan konservatif tidak dipermasalahkan lagi dengan estetika dan teknik-teknik tari kontemporer barat. Hal ini dapat dilihat sebagai hasil dari sebuah interogasi terhadap bentuk-bentuk yang diharapkan oleh para lembaga pendanaan untuk karya yang “baru, cutting edge” (Gorringe, 116). Memang situasi yang agak kompleks dan membulat. Menjadi ‘mainstream’ berarti membedakan tari teater dari tari komunitas, yang mencerminkan etnisitas dan kecondongan religiusitas serta untuk menempatkan tari sebagai upaya profesional.

Karena mereka tinggal di Inggris, para penari keturunan Asia dan Afro-Karibia diharapkan untuk melibatkan diri dengan estetika tari modernis – yang terus menerus mendorong garis atas itu di dalam pengertian presentasi, ketrampilan panggung, musik dan menyingkap serta mengembangkan tema, agar melakukannya di dalam cara yang langsung dikenali sebagai sesuatu yang diilhami oleh standar-standar pertunjukan barat. Tujuan yang di’dikte’ secara halus adalah untuk menciptakan karya yang baru, berbeda, belum pernah dilihat, untuk bereksperimen dengan hibriditas, untuk mendobrak batas-batas mengikuti estetika modernis barat secara penuh, yang sepertinya tetap di tas tak tertandingi.

Sebutan-sebutan klasisisme dan neoklasisisme digunakan dengan penekanan pada universalitas dan diterapkan, misalnya, pada bentuk-bentuk tari dari Asia Selatan seperti bharatanatyam. Asumsi-asumsi yang ada tentang klasisisme, seperti dikonseptualkan dalam wacana Eropa-Amerika tidak ditantang. Mencoba untuk menempatkan diri di dalam klasisisme yang universal memiliki jebakan-jebakannya sendiri, dan bagaimanapun, memaksakan kesetaraan absolut dari klasisisme genre tari yang non-barat dengan sebutan barat, tanpa menginterograsinya, memiliki akibat balik dimana versi-versi lain tentang klasisisme tidak diijinkan untuk diterima dalam istilah-istilahnya sendiri. Saya ingin berargumen bahwa kekurangan kritik ini berakar pada kebingungan yang dominant di dalam persepsi-persepsi tentang apa yang dimaksud dengan klasisisme dan contemporaneity, dalam hal ini berkaitan denga praktek-praktek tari non-Eropa/Amerika, di dalam konteks Inggris.

Klasisisme (dan neoklasisisme), seperti kita ketahui dari wacana-wacana seni dan tari Euro-Amerika adalah

Keduanya sebuah sikap estetik sekaligus sebuah tradisi artistik. Tradisi artistik merujuk pada keantikan klasik dari Yunani dan Roma, seninya, sastranya, serta kritisisme, dan periode-periode berikutnya yang melihat kepada Yunani dan Roma sebagai prototip mereka seperti renaisans Carolingina, Renaisans, dan Neoklasisisme. Penggunaan estetikanya menyiratkan ciri-ciri klasik tentang kejelasan, keteraturan, keseimbangan, persatuan, simetri dan harga diri. (ORO; juga lihat Craine dan Mackrell, dan Mcauley, 39). 

Sebutan klasisisme adalah bersifat Eropa dan ideal-ideal estetika dalam klasisisme membawa warisan keantikan klasikan serta dampat terhadap sebuah model penyempurnaan kebudayaan Eropa. Identitas Eropa serta orang-orang Eropa membayangkan tentang masa lalu barat. Dengan kata lain, klasisisme di dalam konteks Eropa selalu sebuah bentuk dari neoklasisisme, sebuah re-konseptualisasi serta sebuah langkah terhadap klasisisme eksemplar dari Yunani dan Roma, yang menemukan artikulasi-artikulasi ganda sepanjang sejarah Eropa.

Klasisisme, di dalam wacana Eropa-Amerika, mendefenisikan dirinya sebagai universal: nilai-nilai abadi dari validitas universal. Jika kita mengambil kesimpulan logis ini, hanya ada ruang untuk satu klasisisme dan hukum-hukumnya  yang berwacana Eropa-Amerika. Tetapi ada ‘klasisisme-klasisisme’ lain, yang muncul sebagai akibat dari pertemuan kolonial: belum mengikuti model klasisisme barat, dan tak terhindarkan, berbeda. Di sinilah, di dalam persepsi Eropa-Amerika, sebuah hirarki implisit dengan klasisisme barat di puncak sebagai prototip. Sebutan klasisisme Eropa-Amerika baik sebagai kategori maupun modus artistik harus ditransplantasikan dan dilokasikan dalam konteks-konteks non-barat dan telah menjadi sebuah cara untuk mengartikulasikan sebuah pandangan universal tentang seni yang selalu ingin maju, apa yang disebut Mitter sebagai ‘validitas universal dari teologi artistik” (Mitter, 1).

Isu hibriditas dan, dengan itu, ada isu interkulturalisme mengintip di latar belakang. Dunia tari kontemporer Asia atau Afro-Karibia di Inggris dipahami sebagai karya yang hibrida secara prinsip dan/atau sebuah gabungan dengan teknik-teknik tari kontemporer barat. Interkulturalisme di Inggris secara umum diterima sebagai keterlibatan dalam dialog dengan kebudayaan yang dominant barat dan laki-laki. Pertunjukan intercultural di Asia tidak sama dengan pertunjukan intercultural di Inggris. “Bagaimana seorang bisa menganggap mampu bicara tentang interkulturalisme”, tanya Barucha, “jika ia tidak memulai untuk bersentuhan dengan komunitas-komunitas yang beragam secara social maupun etnik yang mendiami ruang publiknya sendiri?” (Barucha, 3).

Realita, kata Edwards, adalah apa yang kita masih operasikan “dalam sebuah paradigma ketika kebudayaan-kebudayaan etnis, marjinal dan non-putih terus mengalami pengecualian dan dimana beberapa komunitas putih takut untuk berubah; sebuah konteks dimana menjadi English atau British adalah arena debat politik yang utama” (Edwards, online).

Ada banyak isu yang berhubungan dengan keragaman budaya yang masih perlu “diudarakan dan diperdebatkan”. Menurut Edwards, sebuah kelompok tari seperti Richard Alston Dance Company, misalnya, mewakili sesuatu yang sangat berbeda di dalam keragaman ‘tarian putih’ dan tidak diambil ‘untuk mewakili karya-karya yang dipentaskan oleh warga putih Inggris, tetapi sebagai karya oleh seorang koreografer terdepan. Dari perspektif ini, keragamam budaya dapat berarti: Anda  para kaum Black, Asia, dan China memiliki kontribusi signifikan pada seni di Inggris selama 50 tahun tetapi Anda masih belum terlalu terlihat seperti kami – ‘putih’ dan, seperti pendatang baru ‘pengungsi’, Anda berada ditengah-tengah, menanti untuk naik lebih tinggi” (Edwards, online).

Bagian besar dari masalah adalah (fakta bahwa) praktek-praktek tari tertentu, jenis yang ‘beragam secara budaya’ terus dilihat sebagai kendaraan-kendaraan untuk ‘mengekspresikan’ identitas budaya/rasial. Ballet atu tari modern Eropa-Amerika tidak pernah menjadi apa yang seseorang maksud sebagai tari ‘beragam secara budaya’. Mereka adalah bentuk-bentuk hegemonis. Penari kontemporer Vena Ramphal, yang trajectory-nya berawal tari klasik bharatanatyam sebagai teknik awal yang ia pelajari, ke ‘merek’nya sendiri tentang penciptaan tari kontemporer, menunjuk pada ‘identitas-identitas budaya’ (seperti British Asian) didengungkan, tetapi maksudnya adalah untuk secara otomatis menghentikan [misalnya] identitas-identitas Asia Selatan dengan tari Asia Selatan. Ini  membuka sebuah ruang untuk beberapa hal terjadi, seperti: estetika tari-tari [Asia dan Afro-Karibia] bisa muncul ke depan, dengan apa adanya; dalam interaksi antara bentuk-bentuk tari Asia dan lainnya membentuk bahasa-bahasa baru untuk menciptakan, mengerjakan, dan melukiskan tari(-tarian)” (Mangalanayam, online).

Sebagai kesimpulan: saya secara singkat telah menyebutkan beberapa masalah terkait dengan keragaman budaya seperti diterapkan dalam penciptaan tari dan pertunjukan di Inggris, dengan sebuah fokus yang lebih spesifik yaitu London, ibukota ‘keragaman budaya’ yang utama. Saya telah menekankan referensi-referensi eufemistik terhadap ras dan etnisitas yang diterjemahkan sebagai ‘keragaman budaya’ serta implikasinya terhadap bagaimana gagasan-gagasan tentang klasisisme, gagasan-gagasan tentang tradisional dan contemporaneity didiskusikan dan dipahami. Saya secara singkat teltah menyinggung beberapa isu penting yang terkait dalam diskursus ini, dan yang fundamental untuk memahami praksis-praksis tari, seperti perbedaan antara tradisional dan klasik – bagaimana istilah-istilah ini digunakan, oleh siapa dan dalam referensi bentuk-bentuk tari mana saja. Mungkin, selama diskusi berlangsung, kita dapat berkesempatan untuk meninjau lebih jauh.  
narasumber oleh : Dr Alessandra Lopez y Royo
Roehampton University (London)

tinjauan referensi sebagai berikut :
Barnes, Thea Nerissa “Bode Lawal Postmodern African Dance”  www.ballet-dance.com, 2005
Bharucha, Rustom. The Politics of Cultural Practice. Thinking through Theatre in an Age of Globalization. Oxford/New Delhi: Oxford University Press, 2001.
Brah, Avtar. Cartographies of diaspora: Contesting identities. London: Routledge, 1996.
Craine, Debra and Judith Mackrell. The Oxford Dictionary of Dance. Oxford: Oxford University Press, 2000.
Edwards, Brenda “Invisible identity? Invisible voice?” www.communitydance.org.uk, 2005
Gorringe, Magdalen. “South Asian Dance in UK.” A.M. Khokar ed. Attendance. The Dance Annual of India. Uday Shankar and Choreography Special. Bangalore: Ekah Printways, 2001.
Jones, Siam. The archaeology of ethnicity. Constructing identities in the past and present. London: Routledge, 1996.
Mangalanayagam, Tanja “Vena Ramphal  www.londondance.com 2005
Mitter, Partha. Indian Art. (Oxford History of Art) Oxford: Oxford University Press, 2001.

No comments:

Post a Comment